Sabtu, 12 Oktober 2013

Kisah Nabi Ismail as

Suatu hari Nabi Ibrahim pergi ke Makkah untuk mengunjungi putranya yaiti Nabi Ismail as di tempat yang dianggapnya masih asing, untuk menghilangkan rasa rindu pada putranya yang sangat disayanginya, dan juga untuk menenangkan hatinya yang selalu risau jika mengingat keadaan puteranya bersama ibunya yang ditinggalkan di tempat yang tandus. Jauh dari masyarakat kota dan pergaulan umum.

Ketika Nabi Ismail as mencapai usia remaja, Nabi ibrahim mendapat mimpi bahwa ia harus menyembelih puteranya, yaitu Nabi Ismail.  Dan mimpi seorang Nabi merupakan salah satu dari cara Allah menurunkan wahtunya kepada Nabi, jadi perintah yang diterimanya dalam mimpi itu harus dilaksanakan oleh Nabi Ibrahim as. Mengetahui perintah itu, ibrahim duduk dan termenung memikirkan ujian dari Allah yang begitu berat tersebut. Sebagai seorang ayah yang baru saja dikarunia seorang puterang setelah puluhan tahun diharapkan dan didamnbakan, serta saat ini ia sedang penuh kebahagiaan bersama puteranya yang diharapkan bisa menjadi pewaring dan menyambung kelangsungan keturunannya, tiba tiba harus dijadikan qurban dan harus direnggut oleh tangan ayahnya sendiri.

 Tapi karena ia merupakan seorang Nabi, yang menjadi pesuruh Allah dan pembawa agama yang seharusnya menjadi contoh dan teladan bagi para pengikutnya dalam beribadah kepada Allah, menjalankan segala pernitah-Nya dan menempatkan cintanya kepada Allah di atas cintanya kepada anak, istri, harta dan benda lain-lain. Tentu ia harus melaksanakan perintah dari Allah yang diwahyukan melalui mimpinya, apapun yang akan terjadi sebagai akibat pelaksanaan perintah itu.

Sungguh amat berat ujian yang dihadapi oleh Nabi Ibrahim as, namun sesuai dengan firman Allah yang bermaksud : “Allah lebih mengetahui dimana dan kepada siap Dia mengamanatkan risalah-Nya”. Lalu Nabi ibrahim as tidak membuang waktu lagi, berniat tetap akan menyembelih Nabi Ismail as puteranya sebagai qurban sesuai dengan perintah Allah yang telah diterimanya. Dan berangkatlah Nabi Ibrahim as menuju ke Makkah untuk menemui dan menyampaikan kepada puteranya apa yang Allah perintahkan.

Nabi Ismail sebagai anak yang soleh yang sangat taat kepada Allah dan bakti kepada orang tuanya, ketika Nabi Ismail as mulai besar Nabi ibrahim as berkata : “Hai anakku! Aku telah bermimpi, di dalam tidur seolah-olah saya menyembelih kamu, maka bagaimanakah pendapatmu?”

Tanpa ragu-ragu dan berfikir panjang Nabi Ismail pun menjawab perkataaan ayahnya :

“Wahai ayahku! Laksanakanlah apa yang telah diperintahkan oleh Allah kepadamu. Engkau akan menemuiku insya-Allah sebagai seorang yang sabar dan patuh kepada perintah. Aku hanya meminta dalam melaksanakan perintah Allah itu agar ayah mengikatku kuat kuat supaya aku tidak banyak bergerak sehingga menyusahkan Ayah, kedua agar menanggalkan pakaianku supaya tidak terkan darah yang akan menyebabkan berkurangnya pahalaku ketika ibuku melihatnya, ketiga tajamkanlah pedangmu dan percepatlah pelaksanaan penyembelihan agar meringankan penderitaaan dan rasa pendihku, keempat dan yang terakhir sampaikanlah salamku kepada ibuku berikanlah kepadanya pakaianku ini untuk menjadi penghiburnya dalam kesedihan dan tanda mata serta kenang-kenangan baginya dari putera tunggalnya”

Kemudian dipeluknya Nabi Ismail as dan dicium pipinya oleh Nabi Ibrahim seraya berkata :

“Bahagialah aku mempunyai seorang putera yang taat kepada Allah, bakti kepada orang tua yang ikhlas hati menyerahkan dirinya untuk melaksanakan perintah Allah”

Saat penyembelihan yang mengerikan telah tiba. Diikatlah kedua tangan dan kaki Nabi Ismail as, dibaringkanlah ia di atas lantai, lalu diambillah parang tajam yang sudah tersedia dan sambil memegang parang ditangannya, kedua mata Nabi ibrahi asi tergenang air berpindah memadang dari wajah puteranya ke parah yang mengkilap di tangannya, seakan-akan pada saat itu hari beliau menjadi tempat pertarungan antara perasaan seorang ayah di satu pihak dan kewajiban seorang rasul di satu pihak yang lain. Pada akhirnya dengan memejamkan matanya, parang diletakkan pada leher Nabi Ismail as dan penyembelihan dilakukan. Akan tetapi apa saya, parang yang sudah ditajamkan itu ternyata menjadi tumpul di leher Nabi Ismail as dan tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya dan sebagaimana diharapkan.

Kejadian tersebut merupakan suatu mukjizati dari Allah yang menegaskan bahwa perintah pengorbatan islmail itu hanya suatu ujian Nabi ibrahim as dan Nabi Ismail as sampai sejauh mana cinta dan taat mereka kepada Allah. Ternyata keduanya telah lulus dalam ujian yang sangat berat itu. Nabi ibrahim as telah menunjukkan kesetiaan yang tulus dengan pengorbanan puteranya untuk berbakti melaksanakan perintah Allah sedangkan Nabi Ismail as tidak sedikit pun ragu atau bimbang dalam melaksanakan kebaktiannya kepada Allah dan kepada orang tuanya dengan menyerahkan jiwa raganya untuk dikorbankan, sampai-sampai terjadi seketika merasa bahwa perang itu tidak mampu memotong lehernya, berkatalah ia kepada ayahnya :

 “Wahai ayahku! Rupa-rupanya engkau tidak sampai hati memotong leherku karena melihat wajahku, cobalah telangkupkan aku dan laksanakanlah tugasmu tanpa melihat wajahku”

Akan tetapi parang itu ttetap tidak berdaya mengeluarkan setitik darah pun dari daging Ismail walau telah telangkupkan dan dicoba memotong lehernya dari belakang.

Dalam keadaan bingung dan sedih hati, karena gagal dalam usahanya menyembelih puteranya, datanglah kepada Nabi ibrahim wayu allah dengan firmannya : dan kami panggilah dia : Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpimu itu sesungguhnya demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan besar:. Kemudian sebagia ganti nyawa Nabi Ismail as yang telah diselamatkan itu, Allah memerintahkan Nabi Ibrahim as menyembelih seekor kambing yang telah tersedia disampingnya dan segera dipotong leher kambing itu oleh beliau dengan parang yang tmpul di leher puterangnya tadi itu. Dan inilah asal permulaan sunnah berqurnban yang dilakukan oleh umat islam pada setiap hari raya Idhul Adha di seluruh dunia.

Dalam Hadits Riwayat Ibnumajah No.3118 dijelaskan percakapan antara Nabi Muhammad SAW dengan umatnya sebagai berikut:

Nabi Muhammad SAW berkata “Ini merupakan sunnah (ajaran) bapak kalian, Ibrahim”
Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, lantas apa yang akan kami dapatkan dengannya? “
Beliau menjawab: “Setiap rambut terdapat kebaikan."
Mereka berkata, Bagaimana dgn bulu-bulunya wahai Rasulullah? “
Beliau menjawab: “Dari setiap rambut pada bulu-bulunya terdapat suatu kebaikan.” [HR. ibnumajah No.3118].

Islam sangat menganjurkan umatnya untuk berkurban. Dengan begitu besarnya pahala yang diberikan, hendaknya kita segera berkurban jika sudah mempunyai kelebihan rizki, karena berkurban juga sebagai bentuk kepedulian sosial terhadap orang-orang yang tak mampu,terutama bagi mereka yang tak mampu membeli daging.


Menghargai Agama Lain? WHY NOT?

Pada suatu hari ada seorang yahudi yang bertamu ke rumah Rasulullah dan beliau menyambutnya dengan baik, beliau tidak menolak seorang yahudi tersebut karena orang tersebut bukan orang Islam namun beliau menerimanya dengan baik dan menghormatinya sebagai tamu.

Dan ketika itu orang yahudi tersebut meminta untuk menginap di rumah Nabi Muhammad SAW dan Beliau mengizinkannya. Saat bersama Nabi Muhammad orang yahudi itu makan bareng bersama Rasullah, bahkan tidurnya pun bersama beliau, betapa indapnya beliau memuliakan seorang tamu meskipun tamu tersebut bukan seorang muslim, itu perilaku yang beliau ajarkan tentang rasa hormat menghormati antar umat beragama yang sesungguhnya dalam agama Islam.

Suatu ketika orang yahudi itu tidak menginap di rumah Rasulullah dan beliau bertanya kepada sahabatnya, kemana orang yahudi itu, ia tidak lagi ke rumah-ku, dan mengapa ia tidak menginap di rumah-ku, Apakah ia marah kepada-ku.? Apa salah-ku sehingga ia tidak lagi ke-rumah ku dan tidak menginap lagi di rumah-ku.? Seorang sahabat Rasulullah yang mengetahui hal itu pun memberitahu bahwa orang yahudi itu sedang sakit di rumahnya. Lantas beliau langsung mengunjungi orang yahudi tersebut untuk menjenguknya. Saat di rumahnya beliau menemui orang yahudi tersebut ia sedang mengalami sakaratul-maut. 

Mengetahui hal tersebut beliau pun menuntun orang yahudi tersebut untuk mengucapkan dua kalimat syahadat “ Laillahaillallah Muhammadar rasulullah” namun orang tersebut melihat ke arah ayahnya dia ragu untuk mengikutinya dia takut ayahnya marah padanya. Namun ayahnya yang mengetahui perilaku Rasulullah saat anaknya menginap di rumah beliau, ayahnya memerintahkan anaknya untuk mengikutinya. Ikutilah ia wahai anakku ikutilah dia sesungguhnya dia itu orang yang baik dia itu membawa kebaikan dia tidak akan menyesatkanmu” kata ayahnya. 

Anaknya pun mengucapkan dua kalimat syahadat yang diperintahkan Nabi Muhammad SAW dan kemudian ia meninggal dunia. Nabi Muhammad SAW pun tersenyum karena orang yang pernah menginap di rumah beliau telah meninggal dalam keadaan agama Islam karena ia telah mengucapkan dua kalimat syahadat. Betapa indahnya perilaku beliau dalam menyebarkan agama Islam dan dalam ajaran tentang rasa menghormati agama lain.

Betapa indahnya perilaku Rasulullah SAW (Nabi Muhammad SAW) yang beliau ajarkan tentang rasa kasih sayang antar umat beragama.  

Islam mewajibkan umatnya mendakwahkan ajaran Rasulullah dengan cara-cara yang baik, tanpa bujukan, apalagi paksaan. Sikap-sikap inilah yang sangat diperlukan dalam menjaga kerukunan antar umat beragama. Dan Rasulullah memberi contoh bagaimana menghormati pemeluk agama lain, dan menjaga kerukunan itu dalam kehidupan sehari-hari.

Kejujuran seorang Abdullah Ibnu Al-Mubarok

Dikisahkan dari Mubarok -ayahanda dari Abdulloh Ibnu al-Mubarok- bahwasanya ia pernah bekerja di sebuah kebun milik seorang majikan. Ia tinggal di sana beberapa lama. Kemudian suatu ketika majikannya -yaitu pemilik kebun tadi yang juga salah seorang saudagar clari Hamdzan- datang kepadanya clan mengatakan, “Hai Mubarok, aku ingin satu buah delima yang manis.”Mubarok pun bergegas menuju salah satu pohon clan mengambilkan delima darinya. Majikan tadi lantas memecahnya, ternyata ia mendapati rasanya masih asam. Ia pun marah kepada Mubarok sambil mengatakan, “Aku minta yang manis malah kau beri yang masih asam! Cepat ambilkan yang manis!”

Ia pun beranjak dan memetiknya dari pohon yang lain. Setelah dipecah oleh sang majikan; sama, ia mendapati rasanya masih asam. Kontan, majikannya semakin naik pitam. Ia melakukan hal yang sama untuk ketiga kalinya, majikannya mencicipinya lagi. Ternyata, masih juga yang asam rasanya. Setelah itu, majikannya bertanya, “Kamu ini apa tidak tahu; mana yang manis mana yang asam?”

Mubarok menjawab. “Tidak.”

 “Bagaimana bisa seperti itu?”

 “Sebab aku tidak pernah makan buah dari kebun ini sampai aku benar-benar mengetahui (kehalalan)nya.”

“Kenapa engkau tidak mau memakannya?” tanya majikannya lagi.

 “Karena anda belum mengijinkan aku untuk makan dari kebun ini.” Jawab Mubarok. Pemilik kebun tadi menjadi terheran-heran dengan jawabannya itu ..

Tatkala ia tahu akan kejujuran budaknya ini, Mubarok menjadi besar dalam pandangan matanya, dan bertambah pula nilai orang ini di sisi dia. Kebetulan majikan tadi mempunyai seorang anak perempuan yang banyak dilamar oleh orang. Ia mengatakan, “Wahai Mubarok, menurutmu siapa yang pantas memperistri putriku ini?”

“Dulu orang-orang jahiliyah menikahkan putrid-putri mereka lantaran keturunan. Orang Yahudi menikahkan karena harta, sementara orang Nashrani menikahkan karena keelokan paras. Dan umat ini menikahkan karena agama.” Jawab Mubarok.

Sang majikan kembali dibuat takjub dengan pemikirannya ini. Akhirnya majikan tadi pergi dan memberitahu isterinya, katanya, “Menurutku, tidak ada yang lebih pantas untuk putri kita ini selain Mubarok.”

Mubarok pun kemudian menikahinya dan mertuanya memberinya harta yang cukup melimpah. Di kemudian hari, isteri Mubarok ini melahirkan Abdullah bin al-Mubarok; seorang alim, pakar hadits, zuhud sekaligus mujahid. Yang merupakan hasil pernikahan terbaik dari pasangan orang tua kala itu. Sampai-sampai Al-Fudhoil bin ‘Iyadh Rohimahullah mengatakan -seraya bersumpah dalam perkataannya-, “Demi pemilik Ka’bah, kedua mataku belum pernah melihat orang yang semisal dengan Ibnu al-Mubarok.

Hari ini, kecurangan dan penipuan sudah semakin banyak terjadi dalam kehidupan sebagian orang. Sangat jarang kita temukan orang jujur lagi dipercaya dalam menunaikan amanah serta yang jauh dari sifat curang dan penipu.

Islam mengajarkan umatnya untuk senantiasa berbuat jujur sebagaimana firman Allah dalam surat Az Zumar ayat 33-34, “Orang yang membawa kebenaran dan yang membenarkannya, merekalah orang-orang yang bertakwa. Mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki di sisi Tuhan mereka. Itulah ganjaran bagi orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Az-Zumar: 33-34).

Jika semua orang bertindak jujur, mereka akan memperoleh manfaat dan keuntungan yang sangat besar. Namun jika ketidakjujuran yang telah menjadi fenomena umum dalam masyarakat ini masih menjadi kebiasaan, maka prinsip-prinsip akhlak manusia akan melemah, kondisi saling pengertian akan menghilang serta kehidupan sosial masyarakat akan menjadi tidak teratur.